Rabu, 20 Agustus 2025

Keindahan Menyapa di Setiap Hal yang Kamu Sadari

Hidup adalah perjalanan yang penuh kejutan. Di tengah jalan yang kadang sepi, semesta kerap menghadirkan sosok tertentu. Datang tanpa aba-aba, lalu membawa cahaya, seolah memberi warna baru pada lukisan hidup kita. Kehadiran mereka tidak selalu panjang, tetapi cukup untuk mengajarkan arti bahagia yang sederhana dan tulus.

Ada yang hadir bagaikan cahaya pagi: perlahan menyapa, lembut, dan memberikan kehangatan yang membuat kita kembali percaya pada indahnya hari. Ada pula yang pergi laksana senja: menorehkan semburat memukau sebelum akhirnya lenyap di balik cakrawala. Hidup memang seperti itu, arusnya terus bergerak, mempertemukan sekaligus memisahkan.

Seringkali hati ingin menggenggam. Kita berharap waktu berhenti, agar seseorang tetap berada di sisi. Namun kehidupan mengajarkan: mencintai bukan berarti memiliki selamanya, melainkan berani merelakan, sambil tetap bersyukur karena pernah dipertemukan.

Sebab perpisahan sejatinya tidak benar-benar kosong. Ia meninggalkan bekas. Seperti dedaunan yang gugur, tampak hilang tetapi justru menyuburkan tanah. Dan setiap pertemuan yang datang tanpa rencana adalah tunas baru yang tumbuh dari tanah itu. Membawa kebahagiaan yang tak terduga, menghadirkan warna yang sebelumnya tak pernah ada.

Maka, marilah kita belajar melapangkan hati. Menyambut hadirnya seseorang sebagai anugerah, merelakan setiap perpisahan sebagai pelajaran, dan membiarkan kenangan menjadi doa yang senantiasa hidup. Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang menetap paling lama, melainkan siapa yang sempat menyalakan cahaya di sepanjang perjalanan kita. Seperti pelangi yang singkat, namun meninggalkan pesona yang tak terlupakan.

Minggu, 03 Agustus 2025

No Closure, Just Lessons - Chapter 5

"Hidup tak menjanjikan kejelasan, tapi ia selalu membuka ruang bagi keberanian untuk melanjutkan"

Membanggakan sekali ya rasannya bisa mendapatkan apa yang sudah diperjuangkan. Orang yang gigih akan mendapatkan sesuatu yang lebih menguntungkan daripada hanya diam, pasrah, dan selalu bersembunyi. Bukankah begitu? Sepertinya tidak terlalu buruk untuk dipandang aneh oleh beberapa orang jika hasil dari tindakan itu sepadan dengan usaha yang telah dilakukan. Payah sekali jika seseorang meremehkan orang lain hanya karena merasa memiliki nilai lebih. Akan saling menghargai dan mendukung mulai saat ini. Caramu dipandang adalah dari caramu bertindak. Suatu saat, jika akan memperjuangkan sesuatu harus lebih gigih. Apa yang terjadi saat ini bisa dijadikan pelajaran untuk lebih bijak dalam bertindak di masa depan. Tahu apa yang harus dilakukan adalah hak istimewa.

Ini adalah bagian terakhir dari bagian-bagian sebelummnya. Atau mungkin saja masih berlanjut. Would love to know. Hahaa... Cerita yang menggantung memang selalu menyebalkan. Dalam hidup ini memang tidak sepatutnya kita bergantung pada siapapun, itu hanya akan membuatmu berharap. Kalau bukan kebahagiaan yang datang sudah pasti itu kekecewaan. Waktu akan menyembuhkan, lanjutkan saja hidupmu karena kamu tidak bisa mengubah masa lalu. Ciptakan sesuatu yang indah di masa depan, itu bisa dimulai dari sekarang. Good Luck! 

Selasa, 22 Juli 2025

Catatan Kecil Tentang Empati

“Empati bukan soal seberapa dekat kita dengan seseorang, tapi seberapa dalam kita mampu merasakan apa yang mereka rasakan.”

Hari ini aku menulis sesuatu sebagai pengingat buat diri sendiri: bahwa aku ingin terus bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik. Bukan cuma buat diriku, tapi juga buat siapapun yang mungkin membaca tulisan ini.

Barusan aku dapat kabar tentang seorang teman yang mengalami hal buruk. Kaget, tentu. Tapi anehnya, responku terasa datar. Mungkin karena kami nggak terlalu dekat. Aku hanya sempat mikir, “Kasihan ya... semoga semuanya segera membaik.” Itu saja. Tanpa banyak pertanyaan, tanpa emosi berlebih.

Lalu aku menyampaikan kabar itu ke orang lain. Responnya jauh lebih dalam. Ia terlihat benar-benar peduli. Nanya ini-itu, bener-bener menunjukkan empati. Dan saat itu aku terdiam.

Aku mulai bertanya ke diri sendiri: “Apakah aku sudah cukup baik, atau belum?” Mau nyari pembenaran—ah, mungkin mereka emang lebih akrab. Tapi nyatanya... nggak juga.

Dari sini aku belajar. Belajar bahwa empati itu nggak boleh pilih-pilih. Nggak hanya diberikan ke orang-orang yang dekat dengan kita. Tapi juga ke mereka yang mungkin jarang kita sapa, jarang kita pikirkan. Karena pada dasarnya, semua orang pantas mendapatkan rasa simpati dan empati.

Kadang kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri, sampai lupa melihat sekitar. Tapi semoga mulai hari ini, aku bisa lebih membuka hati. Untuk jadi manusia yang nggak cuma baik untuk diri sendiri, tapi juga hadir—walau hanya sebentar—untuk orang lain.

Senin, 09 Juni 2025

Segala yang Muncul Akan Berlalu

Kau akan tahu bahwa kau telah menyakiti seseorang, saat mereka berhenti menjelaskan apa yang mereka rasakan.

Ada waktu-waktu dalam hidup di mana kita baru benar-benar melihat sesuatu ketika semuanya sudah terlanjur tak bisa disentuh. Ketika suara yang dulu akrab berubah menjadi hening yang tak bisa lagi dijangkau oleh kata apa pun.

Aku pernah berpikir bahwa memahami seseorang bisa ditunda, bahwa selama segalanya masih terlihat baik-baik saja, tak apa jika aku belum sepenuhnya mengerti. Ternyata, aku salah. Rasa kecewa tidak selalu datang dalam bentuk marah atau tangisan. Kadang ia diam saja, menumpuk di balik senyum, dan pelan-pelan menjauh tanpa suara.

Mungkin aku terlalu sering mengira segalanya akan kembali seperti semula. Bahwa tak apa jika aku lambat merespons, tak peka, atau tak tahu bagaimana caranya mendengarkan dengan benar. Padahal di balik sikap tenangmu, kau hanya sedang mengukur seberapa lama lagi kau bisa bertahan.

Dan aku… tak pernah menyadari bahwa setiap upayamu untuk bicara sebenarnya adalah bentuk cinta. Yang pada akhirnya kau lepas, bukan karena tak cinta lagi, tapi karena terlalu lama mencoba mengabaikan dirimu sendiri hanya untuk aku yang tak menyadari bentuk perhatian yang kau beri.

Kau berkata bahwa kau tidak membenciku. Dan aku tahu, itu benar. Tapi justru karena tidak ada kebencian, kepergianmu terasa lebih dalam. Seolah-olah kau telah melalui begitu banyak pertimbangan… dan akhirnya menyerah, bukan pada hubungan ini, tapi pada harapan yang tak pernah benar-benar kau temukan jawabannya dariku.

Aku mencoba meminta maaf. Tapi tidak semua luka bisa disembuhkan oleh kata. Ada jarak yang tercipta bukan karena langkah, tapi karena hati yang sudah lebih dulu menyerah.

Yang tersisa kini hanya ruang kosong yang dulunya penuh suara. Dan di situ, aku mulai melihat diriku sendiri dengan jujur, bukan yang ingin kulihat, tapi yang sebenarnya terjadi. Seseorang yang keras kepala. Yang tak tahu kapan harus mengalah. Yang tidak pernah bermaksud menyakiti, tapi terus melakukannya lewat ketidaktahuan.

Kepergianmu menyisakan banyak tanya. Tapi satu yang paling menggema adalah mengapa aku tak bisa berubah saat kau masih di sini? Dan mengapa aku baru belajar saat kau sudah tak lagi menunggu?

Aku ingin kau tahu, meski mungkin sudah tak ada gunanya bahwa aku mendengarmu sekarang. Bahwa aku mulai mengerti, walau terlambat. Dan jika ada yang paling aku sesali, itu bukan hanya karena kau memilih pergi… tapi karena aku tak cukup cepat menjadi seseorang yang bisa kau tinggali lebih lama.

Mungkin aku masih egois karena berharap. Tapi di antara semua rasa bersalah dan diam yang tertinggal, aku hanya ingin satu hal, semoga kau bahagia, di mana pun langkahmu kini. Dan bila suatu hari kita bertemu lagi meski tak lagi dengan cara yang sama, aku ingin kau melihat seseorang yang telah belajar dari kehilangan karena kebodohannya. Terima kasih sudah membuat ku menyadari betapa berharganya rasa perhatian seseorang yang sudah diberikan kepada ku. Maaf aku terlambat, semoga kamu lebih beruntung.

Minggu, 08 Juni 2025

Hakikat Manusia

Menjadi manusia adalah perjalanan, bukan tujuan. Dan setiap luka, setiap tawa, setiap langkah semuanya bagian dari keutuhan itu.

Kita sering merasa gagal karena tidak menjadi seperti yang diharapkan. Terlalu cepat menyalahkan diri sendiri saat salah, terlalu keras menghakimi saat lemah, seolah kita harus selalu kuat, selalu benar, selalu baik. Padahal, menjadi manusia berarti menjadi rapuh. Menjadi manusia berarti bisa marah, bisa menangis, bisa keliru. Tapi juga bisa mencintai, meminta maaf, dan memperbaiki diri.

Hakikat manusia bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan keberanian untuk tetap berjalan meski jatuh, tetap percaya meski pernah dikhianati, tetap mencoba meski pernah gagal. Kita adalah makhluk yang terus belajar. Dari luka, dari cinta, dari kehilangan, dari pertemuan. Kita diciptakan bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk mengalami. Untuk merasa, untuk tumbuh. 

Jangan takut jika masih merasa belum cukup baik. Karena yang terpenting bukanlah menjadi manusia yang sempurna, tapi menjadi manusia yang terus berusaha. Yang tahu kapan harus diam, kapan harus bertindak, dan kapan harus melepaskan.

Kematian dan Kehidupan

Segala sesuatu yang memiliki awal, pasti akan berakhir. Maka selagi hidup, berbuatlah bajik agar ketika ajal menjemput, kita telah menanam benih menuju kelahiran yang lebih baik.

Dalam pandangan Buddhis, kehidupan dan kematian bukan dua hal yang saling berlawanan, melainkan satu rangkaian yang tak terpisahkan. Kematian bukan akhir segalanya, melainkan sebuah proses alamiah peralihan dari satu bentuk kehidupan ke bentuk lainnya. Kematian adalah pintu menuju kelahiran kembali.

Dan kehidupan yang kita jalani saat ini adalah hasil dari karma di masa lalu. Begitu pula, apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan ke mana arah kelahiran kita setelah ini. Maka dalam ajaran Buddha, hidup bukan hanya untuk dinikmati, tapi untuk dijalani dengan penuh kesadaran dan kebajikan.

Karena setiap pikiran, ucapan, dan perbuatan kita akan meninggalkan jejak. Tidak ada yang benar-benar hilang. Kebaikan yang kita lakukan meski kecil akan kembali kepada kita, entah dalam bentuk kebahagiaan, ketenangan, atau kelahiran yang lebih baik.

Kematian bukan hal yang harus ditakuti, tapi disadari. Sebab dengan menyadari kematian, kita akan lebih menghargai kehidupan. Kita tak akan menyia-nyiakan waktu dengan kebencian, keserakahan, atau kemalasan. Kita akan lebih ringan memaafkan, lebih tulus mencintai, dan lebih tekun berbuat baik.

Maka selama kita masih memiliki kesempatan untuk hidup, gunakanlah dengan bijaksana. Berlatihlah untuk tidak melekat pada hal-hal yang fana. Berlatihlah untuk mengurangi kemelekatan dan menumbuhkan kebajikan. Karena hanya itulah yang akan kita bawa saat meninggalkan dunia ini, bukan harta, bukan pujian, tapi karma.

Jalan menuju pembebasan tidak selalu mudah. Tapi setiap langkah kecil yang diisi dengan kebajikan adalah langkah yang membawa kita semakin dekat pada kedamaian sejati.

Keburukan dan Keindahan

Kita tak bisa memilih untuk hidup hanya dalam yang indah, sama seperti kita tak bisa menolak datangnya hujan di hari yang kita harapkan cerah.

Hidup bukan tentang menghindari badai, tapi tentang belajar menari di tengah hujan dan tetap tersenyum ketika matahari kembali muncul.

Ada masa di hidupku ketika aku selalu ingin yang indah-indah saja. Ingin hari-hari yang penuh tawa, teman-teman yang selalu ada, cinta yang tak pernah melukai, jalan hidup yang lurus dan mudah. Aku mengira, semakin dewasa, aku bisa semakin menghindari keburukan. Tapi ternyata, kehidupan tak pernah memberi kita satu sisi saja.

Seiring waktu, aku belajar bahwa hidup bukan tentang memilih antara keburukan atau keindahan. Tapi tentang menerima keduanya dalam satu ruang yang sama. Kadang dalam satu hari yang sama, kita bisa tertawa dan menangis. Kita bisa merasa penuh, lalu hampa. Kita bisa melihat pelangi di pagi hari, lalu badai datang di sore harinya. Dan semuanya tetap bagian dari hidup.

Keburukan mengajarkan kita untuk kuat. Keindahan mengingatkan kita untuk bersyukur. Yang satu melatih kesabaran, yang satu menghangatkan harapan.

Ada momen-momen dalam hidupku yang terasa seperti retakan. Persahabatan yang renggang, kepercayaan yang dikhianati, harapan yang tak jadi kenyataan. Semua itu pernah membuatku marah, kecewa, dan ingin menyerah. Tapi entah bagaimana, dari kepahitan itu tumbuh hal-hal yang tak pernah aku duga: kedewasaan, ketenangan, dan keberanian untuk mulai lagi.

Sekarang, aku tidak lagi berharap semuanya selalu indah. Aku hanya berharap hatiku cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup lembut untuk tetap percaya bahwa keindahan akan datang, meski setelah luka.

Kita tak akan pernah tahu rasanya nyaman jika tak pernah gelisah. Tak akan benar-benar paham arti bahagia jika tak pernah menangis. Maka biarkan hidup berjalan dengan caranya sendiri. Terima yang baik dengan syukur, dan yang buruk dengan sabar.

Karena pada akhirnya, keindahan hidup bukan terletak pada ketiadaan keburukan, tetapi pada bagaimana kita bisa berdamai dengan semuanya.

Pengkhianatan dan Kesetiaan

Kadang yang mengubah segalanya bukan peristiwa besar, tapi satu pengkhianatan kecil yang membuka matamu tentang siapa yang benar-benar setia.

     Dulu kita pernah begitu dekat. Tertawa di tempat yang sama, saling membagi cerita, rahasia, dan luka. Aku mengira kebersamaan itu akan bertahan lebih lama. Aku percaya, meski banyak hal dalam hidup ini berubah, ada yang akan tetap utuh: kesetiaan dalam pertemanan. Tapi nyatanya, tak semua hal bisa dijaga. Terutama jika salah satu mulai abai terhadap ucapannya sendiri. Pernahkah kamu berpikir sebelum berkata? Pernahkah kamu berhenti sejenak sebelum melontarkan sesuatu yang bisa melukai, yang bisa mengoyak kepercayaan orang lain? Satu kata yang tak dijaga, bisa menjadi jurang. Satu sikap yang tak disadari, bisa menjadi awal dari keretakan. Kita sekarang asing. Bahkan untuk sekadar menyapa pun rasanya berat. Tak ada lagi kabar, tak ada lagi kepedulian. Dulu kamu ada di lingkar terdekatku. Sekarang, kita hanyalah nama-nama yang saling tahu tapi tak saling peduli. Padahal dalam hubungan, terutama pertemanan, kesetiaan bukan hanya tentang tidak pergi. Tapi tentang tetap menjaga, bahkan ketika situasi sedang tidak sempurna. Tentang tidak menjatuhkan nama seseorang yang pernah begitu percaya padamu. Tentang memilih untuk tetap ada, ketika godaan untuk membicarakan di belakang terasa lebih mudah. Dikhianati oleh orang yang kita anggap teman dekat adalah rasa sakit yang berbeda. Bukan hanya karena kehilangan, tapi karena kehilangan itu datang dari seseorang yang kita biarkan masuk terlalu dalam. Kini aku belajar. Bahwa tidak semua yang datang akan tinggal. Tidak semua yang dekat akan bertahan. Aku belajar untuk lebih berhati-hati, untuk tidak memberikan seluruh kepercayaan begitu saja. Dan yang paling penting, aku belajar bahwa kesetiaan adalah kualitas yang tidak semua orang punya. Jadi sebelum kamu berkata sesuatu, sebelum kamu memilih untuk mengorbankan keharmonisan demi kesenangan sesaat, pikirkanlah: apa yang akan hilang setelahnya? Karena kepercayaan yang pecah tak akan pernah kembali utuh. Dan hubungan yang rusak karena pengkhianatan, akan selalu membawa bekas.

Sabtu, 07 Juni 2025

Kerugian dan Keuntungan

Tidak semua kehilangan terasa sakit, dan tidak semua keberuntungan datang dari usaha.

Bagiku, salah satu kerugian yang paling terasa adalah saat aku tidak mengambil sebuah kesempatan, padahal aku tahu sebenarnya aku bisa tapi ragu. Bukan karena gagal atau karena hasil akhirnya buruk, tapi karena aku sendiri yang memutuskan untuk mundur. Saat aku menolak sebuah peluang yang kemudian terbukti berharga, ada penyesalan yang muncul bukan karena hasilnya, tapi karena aku menyadari itu murni pilihanku sendiri. Aku melepaskannya dengan sadar.

Namun anehnya, aku justru tidak terlalu kecewa jika aku mengambil keputusan yang ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, selama keputusan itu benar-benar datang dari diriku sendiri. Aku tidak masalah menjalani konsekuensinya, karena aku yang memilih. Kegagalan akan terasa lebih ringan jika aku tahu itu adalah hasil dari langkahku sendiri, bukan karena mengikuti arahan atau dorongan orang lain.

Aku tidak merasa terlalu rugi ketika tidak mengambil kesempatan berdasarkan pendapat orang lain, meskipun terlihat menjanjikan. Kalau menurutku itu bukan jalanku, aku tidak akan menyesal. Bagiku, rasa rugi yang sesungguhnya muncul saat aku mengabaikan intuisi dan keyakinan sendiri hanya karena ingin menyenangkan atau menuruti orang lain.

Sementara itu, keuntungan bagiku adalah hal-hal yang sering kali tidak bisa direncanakan, aku menyebutnya hoki. Dan jujur saja, aku ingin terus menjadi orang yang hoki. Karena menurutku, itu adalah bentuk keuntungan yang paling menyenangkan. Saat hidup terasa berpihak, saat langkah terasa dimudahkan tanpa tahu pasti kenapa, itu adalah keberuntungan yang aku syukuri.

Selain itu, keuntungan juga bisa berarti memiliki privilege. Apa pun bentuknya. Bisa dari lingkungan yang suportif, keluarga yang baik, akses pendidikan, atau bahkan hanya berada di waktu dan tempat yang tepat. Aku sadar tidak semua orang memiliki hak istimewa seperti itu, dan ketika aku menyadari aku memilikinya, aku hanya bisa berharap semoga keuntungan itu tetap menyertaiku.

Pada akhirnya, kerugian dan keuntungan bukan soal menang atau kalah. Tapi tentang seberapa jujur kita terhadap pilihan yang kita buat, dan seberapa siap kita menerima hasilnya. Entah itu datang dalam bentuk kehilangan atau keberuntungan, semuanya tetap bagian dari perjalanan kita memahami diri sendiri.

Kesendirian dan Kebersamaan

Hidup bukan hanya tentang siapa yang datang, tapi siapa yang memilih tinggal. Seperti pelukan yang tak pernah pergi, mereka menjaga jiwamu tetap utuh.

Aku adalah seseorang yang cukup tertutup. Aku nyaman sendirian di rumah, menikmati ketenangan, jauh dari keramaian yang melelahkan. Tidak bertemu orang dalam waktu singkat bukan masalah bagiku. Aku sangat menikmati kesendirian. Di saat-saat seperti itu, aku merasa tenang dan utuh.

Namun, seiring bertambahnya usia, aku mulai sadar bahwa aku tidak bisa hidup selamanya dengan sifat yang anti sosial. Saat dewasa, kamu perlu memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik untuk bisa bertahan di masyarakat. Dunia nyata menuntut lebih dari sekadar bisa sendiri.

Meski begitu, aku tetaplah aku. Aku masih suka berdiam diri. Aku tetap menginginkan ketenangan. Tapi aku juga menyadari, aku tidak bisa terus-menerus sendirian. Aku butuh seseorang untuk diajak bicara. Seseorang yang bisa mengerti dan menerima. Bagiku, mereka adalah sahabatku.

Aku punya dua sahabat, Citra dan Nabila. Mereka termasuk orang terpenting dalam hidupku. Aku bahkan ingin menghabiskan sepanjang hidupku bersama mereka. Bersama mereka, aku bisa menjadi diriku sendiri. Mereka tidak pernah menghakimiku, tidak pernah menuntutku, dan selalu ada dalam keadaan apa pun. Walaupun saat ini kami berada di tempat yang berbeda, jarak tidak menghalangi kebersamaan kami. Kami masih sering berkomunikasi, hampir setiap hari.

Aku sangat bangga memiliki mereka. Aku ingin dunia tahu bahwa ada cinta yang murni dan tulus. Cinta yang tidak bergantung pada seberapa hebat atau seburuk dirimu. Cinta yang tetap tinggal meskipun keadaan tidak selalu mudah.

Jadi, yang perlu kita temukan dalam kesendirian dan kebersamaan adalah kenyamanan. Di mana pun, dan dengan siapa pun. Saat kamu berada dalam kesendirian, kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Percaya bahwa kamu mampu menghadapi apa pun. Namun, jangan takut jika suatu hari kamu merasa lelah atau patah. Kamu bisa bersandar pada sahabatmu atau orang-orang terkasihmu. Mereka akan selalu berada di pihakmu dalam keadaan apa pun.

"Jika kamu memiliki orang yang tidak meninggalkanmu dalam keadaan apa pun, pertahankan mereka. Mereka pantas mendapatkan cinta darimu. Pada akhirnya, orang yang menerima cintamu adalah orang yang pantas mendapatkannya".

Aku harap setelah membaca tulisan ini, kamu bisa mulai menyadari siapa saja yang benar-benar pantas berada di sisimu. Kita memang bisa berteman dengan siapa pun, tapi belum tentu kebersamaan itu sehangat saat kamu bersama dengan orang yang benar-benar saling membutuhkan dan saling menyayangi.

Hargailah sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak kamu sadari keberadaannya.

Jumat, 30 Mei 2025

Menikmati Perjalanan yang Bukan Menuju Rumah

Cinta adalah saat dimana kita mampu melepaskan apa yang memang tidak kekal. Tumbuh hanya untuk belajar mengikhlaskan, bukan malah menggenggam.

Ada masa-masa dalam hidup ketika perasaan datang tanpa pilih waktu, tanpa peduli tempat, apalagi arah. Ia hadir perlahan, bagai benih yang diam-diam menyusup ke relung hati, sebelum kita sadar bahwa ia sudah ada. Dari tawa yang ringan, dari pertemuan yang tampak biasa, hingga percakapan yang terasa lebih tenang daripada sunyi.

Segalanya terasa begitu alami. Tidak ada ledakan emosi, juga tidak ada terburu-buru. Namun justru dari ketenangan itu muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan. Seperti berjalan di sebuah jalan yang indah, tapi kita tahu ujungnya bukan rumah. Ada batas yang tidak bisa dilalui, sesuatu yang tak bisa digenggam meski terasa sangat dekat.

Banyak yang bilang ini hanya membuang waktu. Tapi cinta bukan soal logika, dan waktu tidak selalu bicara soal hasil. Ada cinta yang hadir bukan untuk dipertahankan, tapi untuk mengajarkan. Tentang bagaimana menerima, menjaga perasaan tanpa harus memilikinya, dan merawat harapan tanpa menggenggamnya terlalu erat.

Namun, aku tak pernah menyesal. Dari rasa yang tak terucap, aku belajar banyak hal tentang bersabar, tentang lembutnya hati, dan tentang keberanian mencintai tanpa harus dimiliki. Jika akhirnya aku harus berjalan sendiri, aku tetap membawa rasa itu dengan tenang, bukan untuk disesali, tapi untuk dikenang.

Cinta yang tidak sampai tetaplah cinta, itu sudah lebih dari cukup. Dan itu tidak akan menjadi sia-sia. Dari cinta yang paling sunyi, kita tumbuh menjadi diri yang lebih kuat dari yang pernah kita kira.

Rabu, 23 April 2025

She Who Bravely Faces the Rain

Untuk Nabila Aulia Maharani,

Langit tak selalu biru, jalannya pun tak selalu lurus

Namun kau melangkah tanpa harus mengurus

apa yang patah, apa yang retak

Kau rawat sendiri dalam diam yang tak berjejak.

Hari ini bukan sekadar tentang usia,

tapi tentang jiwa yang terus berjaga,

tentang luka yang tak lagi kau sembunyikan,

melainkan kau ubah jadi kekuatan dalam ketenangan.

     Hari ini, aku ingin menuliskan sesuatu untukmu, sahabatku yang telah melalui begitu banyak hal dalam hidup. Aku tahu, dunia tidak selalu ramah padamu. Jalan yang kamu tempuh tidak mudah, penuh liku dan luka yang tak semua orang mampu bertahan menghadapinya. Namun, kamu tetap berdiri tegak, menghadapi hari demi hari dengan keberanian yang luar biasa. Di balik senyummu yang tenang, tersimpan kekuatan yang diam-diam mengagumkan. Kamu jarang menunjukkan kesedihanmu, tetapi aku tahu, kamu memikul beban yang tidak ringan. Dan aku ingin kamu tahu, aku di sini. Selalu ada. Untuk mendengar, untuk memeluk, untuk menjadi tempatmu pulang saat dunia terasa terlalu berat.

     Sahabatku, jangan pernah merasa sendiri. Dalam setiap langkahmu, ada doaku yang menyertai. Kamu adalah bagian penting dalam hidupku, seseorang yang kucintai dan kusayangi layaknya keluarga. Aku ingin kamu terus melangkah, terus percaya bahwa kamu layak untuk bahagia, dan bahwa masa depan yang indah sedang menantimu. Jangan ragu untuk bersandar padaku saat lelah, dan jangan lupa bahwa segala rasa yang pernah tertahan, suatu hari nanti akan menjadi cerita yang indah. Tetap semangat. Aku menyayangimu, sepenuh hati.

Selamat ulang tahun, Nabila.

Keindahan Menyapa di Setiap Hal yang Kamu Sadari

Hidup adalah perjalanan yang penuh kejutan. Di tengah jalan yang kadang sepi, semesta kerap menghadirkan sosok tertentu. Datang tanpa aba-ab...