SACCA
Rabu, 20 Agustus 2025
Keindahan Menyapa di Setiap Hal yang Kamu Sadari
Minggu, 03 Agustus 2025
No Closure, Just Lessons - Chapter 5
Selasa, 22 Juli 2025
Catatan Kecil Tentang Empati
Barusan aku dapat kabar tentang seorang teman yang mengalami hal buruk. Kaget, tentu. Tapi anehnya, responku terasa datar. Mungkin karena kami nggak terlalu dekat. Aku hanya sempat mikir, “Kasihan ya... semoga semuanya segera membaik.” Itu saja. Tanpa banyak pertanyaan, tanpa emosi berlebih.
Lalu aku menyampaikan kabar itu ke orang lain. Responnya jauh lebih dalam. Ia terlihat benar-benar peduli. Nanya ini-itu, bener-bener menunjukkan empati. Dan saat itu aku terdiam.
Aku mulai bertanya ke diri sendiri: “Apakah aku sudah cukup baik, atau belum?” Mau nyari pembenaran—ah, mungkin mereka emang lebih akrab. Tapi nyatanya... nggak juga.
Dari sini aku belajar. Belajar bahwa empati itu nggak boleh pilih-pilih. Nggak hanya diberikan ke orang-orang yang dekat dengan kita. Tapi juga ke mereka yang mungkin jarang kita sapa, jarang kita pikirkan. Karena pada dasarnya, semua orang pantas mendapatkan rasa simpati dan empati.
Kadang kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri, sampai lupa melihat sekitar. Tapi semoga mulai hari ini, aku bisa lebih membuka hati. Untuk jadi manusia yang nggak cuma baik untuk diri sendiri, tapi juga hadir—walau hanya sebentar—untuk orang lain.
Senin, 09 Juni 2025
Segala yang Muncul Akan Berlalu
Kau akan tahu bahwa kau telah menyakiti seseorang, saat mereka berhenti menjelaskan apa yang mereka rasakan.
Ada waktu-waktu dalam hidup di mana kita baru benar-benar melihat sesuatu ketika semuanya sudah terlanjur tak bisa disentuh. Ketika suara yang dulu akrab berubah menjadi hening yang tak bisa lagi dijangkau oleh kata apa pun.
Aku pernah berpikir bahwa memahami seseorang bisa ditunda, bahwa selama segalanya masih terlihat baik-baik saja, tak apa jika aku belum sepenuhnya mengerti. Ternyata, aku salah. Rasa kecewa tidak selalu datang dalam bentuk marah atau tangisan. Kadang ia diam saja, menumpuk di balik senyum, dan pelan-pelan menjauh tanpa suara.
Mungkin aku terlalu sering mengira segalanya akan kembali seperti semula. Bahwa tak apa jika aku lambat merespons, tak peka, atau tak tahu bagaimana caranya mendengarkan dengan benar. Padahal di balik sikap tenangmu, kau hanya sedang mengukur seberapa lama lagi kau bisa bertahan.
Dan aku… tak pernah menyadari bahwa setiap upayamu untuk bicara sebenarnya adalah bentuk cinta. Yang pada akhirnya kau lepas, bukan karena tak cinta lagi, tapi karena terlalu lama mencoba mengabaikan dirimu sendiri hanya untuk aku yang tak menyadari bentuk perhatian yang kau beri.
Kau berkata bahwa kau tidak membenciku. Dan aku tahu, itu benar. Tapi justru karena tidak ada kebencian, kepergianmu terasa lebih dalam. Seolah-olah kau telah melalui begitu banyak pertimbangan… dan akhirnya menyerah, bukan pada hubungan ini, tapi pada harapan yang tak pernah benar-benar kau temukan jawabannya dariku.
Aku mencoba meminta maaf. Tapi tidak semua luka bisa disembuhkan oleh kata. Ada jarak yang tercipta bukan karena langkah, tapi karena hati yang sudah lebih dulu menyerah.
Yang tersisa kini hanya ruang kosong yang dulunya penuh suara. Dan di situ, aku mulai melihat diriku sendiri dengan jujur, bukan yang ingin kulihat, tapi yang sebenarnya terjadi. Seseorang yang keras kepala. Yang tak tahu kapan harus mengalah. Yang tidak pernah bermaksud menyakiti, tapi terus melakukannya lewat ketidaktahuan.
Kepergianmu menyisakan banyak tanya. Tapi satu yang paling menggema adalah mengapa aku tak bisa berubah saat kau masih di sini? Dan mengapa aku baru belajar saat kau sudah tak lagi menunggu?
Aku ingin kau tahu, meski mungkin sudah tak ada gunanya bahwa aku mendengarmu sekarang. Bahwa aku mulai mengerti, walau terlambat. Dan jika ada yang paling aku sesali, itu bukan hanya karena kau memilih pergi… tapi karena aku tak cukup cepat menjadi seseorang yang bisa kau tinggali lebih lama.
Mungkin aku masih egois karena berharap. Tapi di antara semua rasa bersalah dan diam yang tertinggal, aku hanya ingin satu hal, semoga kau bahagia, di mana pun langkahmu kini. Dan bila suatu hari kita bertemu lagi meski tak lagi dengan cara yang sama, aku ingin kau melihat seseorang yang telah belajar dari kehilangan karena kebodohannya. Terima kasih sudah membuat ku menyadari betapa berharganya rasa perhatian seseorang yang sudah diberikan kepada ku. Maaf aku terlambat, semoga kamu lebih beruntung.
Minggu, 08 Juni 2025
Hakikat Manusia
Menjadi manusia adalah perjalanan, bukan tujuan. Dan setiap luka, setiap tawa, setiap langkah semuanya bagian dari keutuhan itu.
Kita sering merasa gagal karena tidak menjadi seperti yang diharapkan. Terlalu cepat menyalahkan diri sendiri saat salah, terlalu keras menghakimi saat lemah, seolah kita harus selalu kuat, selalu benar, selalu baik. Padahal, menjadi manusia berarti menjadi rapuh. Menjadi manusia berarti bisa marah, bisa menangis, bisa keliru. Tapi juga bisa mencintai, meminta maaf, dan memperbaiki diri.
Hakikat manusia bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan keberanian untuk tetap berjalan meski jatuh, tetap percaya meski pernah dikhianati, tetap mencoba meski pernah gagal. Kita adalah makhluk yang terus belajar. Dari luka, dari cinta, dari kehilangan, dari pertemuan. Kita diciptakan bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk mengalami. Untuk merasa, untuk tumbuh.
Jangan takut jika masih merasa belum cukup baik. Karena yang terpenting bukanlah menjadi manusia yang sempurna, tapi menjadi manusia yang terus berusaha. Yang tahu kapan harus diam, kapan harus bertindak, dan kapan harus melepaskan.
Kematian dan Kehidupan
Segala sesuatu yang memiliki awal, pasti akan berakhir. Maka selagi hidup, berbuatlah bajik agar ketika ajal menjemput, kita telah menanam benih menuju kelahiran yang lebih baik.
Dalam pandangan Buddhis, kehidupan dan kematian bukan dua hal yang saling berlawanan, melainkan satu rangkaian yang tak terpisahkan. Kematian bukan akhir segalanya, melainkan sebuah proses alamiah peralihan dari satu bentuk kehidupan ke bentuk lainnya. Kematian adalah pintu menuju kelahiran kembali.
Dan kehidupan yang kita jalani saat ini adalah hasil dari karma di masa lalu. Begitu pula, apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan ke mana arah kelahiran kita setelah ini. Maka dalam ajaran Buddha, hidup bukan hanya untuk dinikmati, tapi untuk dijalani dengan penuh kesadaran dan kebajikan.
Karena setiap pikiran, ucapan, dan perbuatan kita akan meninggalkan jejak. Tidak ada yang benar-benar hilang. Kebaikan yang kita lakukan meski kecil akan kembali kepada kita, entah dalam bentuk kebahagiaan, ketenangan, atau kelahiran yang lebih baik.
Kematian bukan hal yang harus ditakuti, tapi disadari. Sebab dengan menyadari kematian, kita akan lebih menghargai kehidupan. Kita tak akan menyia-nyiakan waktu dengan kebencian, keserakahan, atau kemalasan. Kita akan lebih ringan memaafkan, lebih tulus mencintai, dan lebih tekun berbuat baik.
Maka selama kita masih memiliki kesempatan untuk hidup, gunakanlah dengan bijaksana. Berlatihlah untuk tidak melekat pada hal-hal yang fana. Berlatihlah untuk mengurangi kemelekatan dan menumbuhkan kebajikan. Karena hanya itulah yang akan kita bawa saat meninggalkan dunia ini, bukan harta, bukan pujian, tapi karma.
Jalan menuju pembebasan tidak selalu mudah. Tapi setiap langkah kecil yang diisi dengan kebajikan adalah langkah yang membawa kita semakin dekat pada kedamaian sejati.
Keburukan dan Keindahan
Kita tak bisa memilih untuk hidup hanya dalam yang indah, sama seperti kita tak bisa menolak datangnya hujan di hari yang kita harapkan cerah.
“Hidup bukan tentang menghindari badai, tapi tentang belajar menari di tengah hujan dan tetap tersenyum ketika matahari kembali muncul.”
Ada masa di hidupku ketika aku selalu ingin yang indah-indah saja. Ingin hari-hari yang penuh tawa, teman-teman yang selalu ada, cinta yang tak pernah melukai, jalan hidup yang lurus dan mudah. Aku mengira, semakin dewasa, aku bisa semakin menghindari keburukan. Tapi ternyata, kehidupan tak pernah memberi kita satu sisi saja.
Seiring waktu, aku belajar bahwa hidup bukan tentang memilih antara keburukan atau keindahan. Tapi tentang menerima keduanya dalam satu ruang yang sama. Kadang dalam satu hari yang sama, kita bisa tertawa dan menangis. Kita bisa merasa penuh, lalu hampa. Kita bisa melihat pelangi di pagi hari, lalu badai datang di sore harinya. Dan semuanya tetap bagian dari hidup.
Keburukan mengajarkan kita untuk kuat. Keindahan mengingatkan kita untuk bersyukur. Yang satu melatih kesabaran, yang satu menghangatkan harapan.
Ada momen-momen dalam hidupku yang terasa seperti retakan. Persahabatan yang renggang, kepercayaan yang dikhianati, harapan yang tak jadi kenyataan. Semua itu pernah membuatku marah, kecewa, dan ingin menyerah. Tapi entah bagaimana, dari kepahitan itu tumbuh hal-hal yang tak pernah aku duga: kedewasaan, ketenangan, dan keberanian untuk mulai lagi.
Sekarang, aku tidak lagi berharap semuanya selalu indah. Aku hanya berharap hatiku cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup lembut untuk tetap percaya bahwa keindahan akan datang, meski setelah luka.
Kita tak akan pernah tahu rasanya nyaman jika tak pernah gelisah. Tak akan benar-benar paham arti bahagia jika tak pernah menangis. Maka biarkan hidup berjalan dengan caranya sendiri. Terima yang baik dengan syukur, dan yang buruk dengan sabar.
Karena pada akhirnya, keindahan hidup bukan terletak pada ketiadaan keburukan, tetapi pada bagaimana kita bisa berdamai dengan semuanya.
Pengkhianatan dan Kesetiaan
Kadang yang mengubah segalanya bukan peristiwa besar, tapi satu pengkhianatan kecil yang membuka matamu tentang siapa yang benar-benar setia.
Dulu kita pernah begitu dekat. Tertawa di tempat yang sama, saling membagi cerita, rahasia, dan luka. Aku mengira kebersamaan itu akan bertahan lebih lama. Aku percaya, meski banyak hal dalam hidup ini berubah, ada yang akan tetap utuh: kesetiaan dalam pertemanan. Tapi nyatanya, tak semua hal bisa dijaga. Terutama jika salah satu mulai abai terhadap ucapannya sendiri. Pernahkah kamu berpikir sebelum berkata? Pernahkah kamu berhenti sejenak sebelum melontarkan sesuatu yang bisa melukai, yang bisa mengoyak kepercayaan orang lain? Satu kata yang tak dijaga, bisa menjadi jurang. Satu sikap yang tak disadari, bisa menjadi awal dari keretakan. Kita sekarang asing. Bahkan untuk sekadar menyapa pun rasanya berat. Tak ada lagi kabar, tak ada lagi kepedulian. Dulu kamu ada di lingkar terdekatku. Sekarang, kita hanyalah nama-nama yang saling tahu tapi tak saling peduli. Padahal dalam hubungan, terutama pertemanan, kesetiaan bukan hanya tentang tidak pergi. Tapi tentang tetap menjaga, bahkan ketika situasi sedang tidak sempurna. Tentang tidak menjatuhkan nama seseorang yang pernah begitu percaya padamu. Tentang memilih untuk tetap ada, ketika godaan untuk membicarakan di belakang terasa lebih mudah. Dikhianati oleh orang yang kita anggap teman dekat adalah rasa sakit yang berbeda. Bukan hanya karena kehilangan, tapi karena kehilangan itu datang dari seseorang yang kita biarkan masuk terlalu dalam. Kini aku belajar. Bahwa tidak semua yang datang akan tinggal. Tidak semua yang dekat akan bertahan. Aku belajar untuk lebih berhati-hati, untuk tidak memberikan seluruh kepercayaan begitu saja. Dan yang paling penting, aku belajar bahwa kesetiaan adalah kualitas yang tidak semua orang punya. Jadi sebelum kamu berkata sesuatu, sebelum kamu memilih untuk mengorbankan keharmonisan demi kesenangan sesaat, pikirkanlah: apa yang akan hilang setelahnya? Karena kepercayaan yang pecah tak akan pernah kembali utuh. Dan hubungan yang rusak karena pengkhianatan, akan selalu membawa bekas.
Sabtu, 07 Juni 2025
Kerugian dan Keuntungan
Tidak semua kehilangan terasa sakit, dan tidak semua keberuntungan datang dari usaha.
Bagiku, salah satu kerugian yang paling terasa adalah saat aku tidak mengambil sebuah kesempatan, padahal aku tahu sebenarnya aku bisa tapi ragu. Bukan karena gagal atau karena hasil akhirnya buruk, tapi karena aku sendiri yang memutuskan untuk mundur. Saat aku menolak sebuah peluang yang kemudian terbukti berharga, ada penyesalan yang muncul bukan karena hasilnya, tapi karena aku menyadari itu murni pilihanku sendiri. Aku melepaskannya dengan sadar.
Namun anehnya, aku justru tidak terlalu kecewa jika aku mengambil keputusan yang ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, selama keputusan itu benar-benar datang dari diriku sendiri. Aku tidak masalah menjalani konsekuensinya, karena aku yang memilih. Kegagalan akan terasa lebih ringan jika aku tahu itu adalah hasil dari langkahku sendiri, bukan karena mengikuti arahan atau dorongan orang lain.
Aku tidak merasa terlalu rugi ketika tidak mengambil kesempatan berdasarkan pendapat orang lain, meskipun terlihat menjanjikan. Kalau menurutku itu bukan jalanku, aku tidak akan menyesal. Bagiku, rasa rugi yang sesungguhnya muncul saat aku mengabaikan intuisi dan keyakinan sendiri hanya karena ingin menyenangkan atau menuruti orang lain.
Sementara itu, keuntungan bagiku adalah hal-hal yang sering kali tidak bisa direncanakan, aku menyebutnya hoki. Dan jujur saja, aku ingin terus menjadi orang yang hoki. Karena menurutku, itu adalah bentuk keuntungan yang paling menyenangkan. Saat hidup terasa berpihak, saat langkah terasa dimudahkan tanpa tahu pasti kenapa, itu adalah keberuntungan yang aku syukuri.
Selain itu, keuntungan juga bisa berarti memiliki privilege. Apa pun bentuknya. Bisa dari lingkungan yang suportif, keluarga yang baik, akses pendidikan, atau bahkan hanya berada di waktu dan tempat yang tepat. Aku sadar tidak semua orang memiliki hak istimewa seperti itu, dan ketika aku menyadari aku memilikinya, aku hanya bisa berharap semoga keuntungan itu tetap menyertaiku.
Pada akhirnya, kerugian dan keuntungan bukan soal menang atau kalah. Tapi tentang seberapa jujur kita terhadap pilihan yang kita buat, dan seberapa siap kita menerima hasilnya. Entah itu datang dalam bentuk kehilangan atau keberuntungan, semuanya tetap bagian dari perjalanan kita memahami diri sendiri.
Kesendirian dan Kebersamaan
Jumat, 30 Mei 2025
Menikmati Perjalanan yang Bukan Menuju Rumah
Cinta adalah saat dimana kita mampu melepaskan apa yang memang tidak kekal. Tumbuh hanya untuk belajar mengikhlaskan, bukan malah menggenggam.
Ada masa-masa dalam hidup ketika perasaan datang tanpa pilih waktu, tanpa peduli tempat, apalagi arah. Ia hadir perlahan, bagai benih yang diam-diam menyusup ke relung hati, sebelum kita sadar bahwa ia sudah ada. Dari tawa yang ringan, dari pertemuan yang tampak biasa, hingga percakapan yang terasa lebih tenang daripada sunyi.
Segalanya terasa begitu alami. Tidak ada ledakan emosi, juga tidak ada terburu-buru. Namun justru dari ketenangan itu muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan. Seperti berjalan di sebuah jalan yang indah, tapi kita tahu ujungnya bukan rumah. Ada batas yang tidak bisa dilalui, sesuatu yang tak bisa digenggam meski terasa sangat dekat.
Banyak yang bilang ini hanya membuang waktu. Tapi cinta bukan soal logika, dan waktu tidak selalu bicara soal hasil. Ada cinta yang hadir bukan untuk dipertahankan, tapi untuk mengajarkan. Tentang bagaimana menerima, menjaga perasaan tanpa harus memilikinya, dan merawat harapan tanpa menggenggamnya terlalu erat.
Namun, aku tak pernah menyesal. Dari rasa yang tak terucap, aku belajar banyak hal tentang bersabar, tentang lembutnya hati, dan tentang keberanian mencintai tanpa harus dimiliki. Jika akhirnya aku harus berjalan sendiri, aku tetap membawa rasa itu dengan tenang, bukan untuk disesali, tapi untuk dikenang.
Cinta yang tidak sampai tetaplah cinta, itu sudah lebih dari cukup. Dan itu tidak akan menjadi sia-sia. Dari cinta yang paling sunyi, kita tumbuh menjadi diri yang lebih kuat dari yang pernah kita kira.
Rabu, 23 April 2025
She Who Bravely Faces the Rain
Untuk Nabila Aulia Maharani,
Langit tak selalu biru, jalannya pun tak selalu lurus
Namun kau melangkah tanpa harus mengurus
apa yang patah, apa yang retak
Kau rawat sendiri dalam diam yang tak berjejak.
Hari ini bukan sekadar tentang usia,
tapi tentang jiwa yang terus berjaga,
tentang luka yang tak lagi kau sembunyikan,
melainkan kau ubah jadi kekuatan dalam ketenangan.
—
Hari ini, aku ingin menuliskan sesuatu untukmu, sahabatku yang telah melalui begitu banyak hal dalam hidup. Aku tahu, dunia tidak selalu ramah padamu. Jalan yang kamu tempuh tidak mudah, penuh liku dan luka yang tak semua orang mampu bertahan menghadapinya. Namun, kamu tetap berdiri tegak, menghadapi hari demi hari dengan keberanian yang luar biasa. Di balik senyummu yang tenang, tersimpan kekuatan yang diam-diam mengagumkan. Kamu jarang menunjukkan kesedihanmu, tetapi aku tahu, kamu memikul beban yang tidak ringan. Dan aku ingin kamu tahu, aku di sini. Selalu ada. Untuk mendengar, untuk memeluk, untuk menjadi tempatmu pulang saat dunia terasa terlalu berat.
Sahabatku, jangan pernah merasa sendiri. Dalam setiap langkahmu, ada doaku yang menyertai. Kamu adalah bagian penting dalam hidupku, seseorang yang kucintai dan kusayangi layaknya keluarga. Aku ingin kamu terus melangkah, terus percaya bahwa kamu layak untuk bahagia, dan bahwa masa depan yang indah sedang menantimu. Jangan ragu untuk bersandar padaku saat lelah, dan jangan lupa bahwa segala rasa yang pernah tertahan, suatu hari nanti akan menjadi cerita yang indah. Tetap semangat. Aku menyayangimu, sepenuh hati.
Selamat ulang tahun, Nabila.
Keindahan Menyapa di Setiap Hal yang Kamu Sadari
Hidup adalah perjalanan yang penuh kejutan. Di tengah jalan yang kadang sepi, semesta kerap menghadirkan sosok tertentu. Datang tanpa aba-ab...
-
Semua orang yang hidup di dunia ini memiliki waktu yang sama, tidak kurang dan tidak lebih dalam satu hari. Setiap menit dan detik dige...
-
- jangan tukarkan kebahagiaan kecilmu demi penderitaan seumur hidup. Pernahkan kamu merasa kecewa? Pada suatu hari, ada seorang gadis datang...
-
Saat kita membaca sebuah cerita ataupun menonton film, kita pasti tidak sabar untuk mengetahui akhir dari ceritanya. Kita bisa berharap dan ...